Skip to content

METODE BERTANYA DALAM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN (HFD)

June 10, 2013

Hilman Fitri
Mahasiswa UPI Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Secara bahasa, metode berasal dari kata metha yang berarti balik atau belakang, dan hodos yang berarti melalui atau melewati. Dalam bahasa arab diartikan sebagai thariqah atau jalan. Dengan demikian, metode berarti jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kata metode selanjutnya dihubungkan dengan kata logos yang berarti ilmu. Dengan demikian metodologi berarti ilmu tentang cara-cara atau jalan yang harus di tempuh untuk mencapai tujuan (Yusuf, 1993: 49).
Sedangkan secara istilah Nata (2011: 176) mengartikan metode sebagai cara-cara atau langkah-langkah yang digunakan dalam menyampaikan sesuatu gagasan, pemikiran atau wawasan yang disusun secara sistematik dan terencana serta didasarkan pada teori, konsep, dan prinsip tertentu yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu terkait, terutama ilmu psikologi, manajemen, dan sosiologi.
Adapun pendidikan, pendidikan dalam bahasa Arab disebut tarbiyat. Menurut Zubaidi (1309 H: 142) secara etimologis, kata tarbiyat adalah mashdar dari kata raba`-yarbu`-rabwan wa rabaan kemudian kata ini diubah ke dalam tsulasi mazid dengan pola fa’ala-yufa’ilu-taf’ilan, maka kata itu menjadi rabba-yurabbi-tarbiyatan.
Sedangkan Al-Manzhur (1988: 96) menjelaskan bahwa pendidikan berarti baiknya pemeliharaan dan pengurusan hingga melewati masa kanak-kanak baik ia anak ataupun bukan. Al-Manzhur (1988: 95) juga menambahkan bahwa tarbiyat dapat bermakna ghazautuhu (aku telah memberinya makan), malakahu (memiliki atau menguasainya), namma (mengembangkan), zaada (menambahkan), atamma (menyempurnakan), ashlaha (membereskan atau mengatur).
Namun pendidikan secara sempit menurut Lodge (1974:23) adalah pendidikan di sekolah; jadi pendidikan adalah pendidikan formal. Sedangkan Marimba (1962:15) mendefinisikan pendidikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan ruhani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
John Dewey sebagaimana dikutip oleh Siswoyo (2011: 89-90) mendefinisikan pendidikan adalah rekonstruksi atau reorganisasi pengalaman yang menambah makna pengalaman, dan yang menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya. Sehingga pendidikan disini diarahkan agar dapat menambah pengalaman serta kemampuan atau keterampilan untuk mengarahkan pengalamannya tersebut demi memperkembangkan serta menyempurnakan potensi yang dimiliki peserta didik.
Selanjutnya Tafsir (1992: 28) mengatakan Konferensi Internasional Pendidikan Islam Pertama (First World Conference On Moslem Education) yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz, Jeddah pada tahun 1977, belum berhasil membuat rumusan yang jelas tentang definisi pendidikan menurut Islam. Dalam bagian “rekomendasi” konferensi tersebut, para peserta hanya membuat kesimpulan bahwa pengertian pendidikan menurut Islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung di dalam istilah taklim, tarbiyah dan takdib.
Dari beberapa definisi di atas walaupun terdapat perbedaan dalam mendefinisikan pendidikan namun memiliki persamaan persepsi bahwasannya pendidikan merupakan proses menumbuhkembangkan seluruh potensi yang telah dianugrahkan Tuhan kepada makhluk hidup sebagai peserta didik serta meluruskan fitrahnya sebagai ‘abid dan khalifah fil ardhi melalui bimbingan, pemberian teladan serta amtsal-amtsal bahan materi yang akan di ajarkan. Karena manusia pada hakikatnya membutuhkan pendidikan, sesuai fitrah dan kemampuan yang dimilikinya. Yang dimaksud dengan fitrah disini adalah kemampuan-kemampuan dasar dan kecenderungan-kecenderungan yang murni dan suci yang dimiliki oleh setiap individu manusia sejak lahir. Kemampuan-kemampuan tersebut lahir dalam bentuk sederhana kemudian saling mempengaruhi, tumbuh berkembang dan menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Istifham (tanya/ bertanya) salah satu gaya bahasa Alquran. Dengan gaya bahasa seperti itu, ia akan semakin memperlihatkan keindahannya sehingga mengalahkan uslub bahasa manusia. Selain keindahan, uslub istifham juga memotivasi pembaca atau pendengarnya agar berfikir atau mendengarkan apa yang akan dibicarakannya setelah pertanyaan tersebut. Jiwa akan terdorong mendengarkan dan mengikuti arahannya. Jawaban pertanyaan yang disampaikan al Quran tidak selalu relevan dengan persoalan yang dipertanyakan, hal itu dimaksudkan memberikan arahan kepada manusia bahwa sesungguhnya yang pantas ditanyakan adalah persoalan yang dijelaskannya itu, bukan persoalan yang mereka pertanyakan.
Uslub Istifham ini dalam al Quran terbagi ke dalam tiga jenis yaitu istifham hakiki (pertanyaan hakiki/ yang sebenarnya); istifham taqriri (pertanyaan penegasan); dan istifham inkarii (pertanyaan penolakan) (Hidayat, tt: 20).
Adapun contoh istifham hakiki ialah Q.S Al- Anbiyaa: 59- 60

Pertanyaan pada ayat (59): “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sampai disini kita, pembaca, belum tahu apakah ini pertanyaan hakiki, yang betul-betul memerlukan jawaban ataukah diajukannyha pertanyaan ini karena ada maksud lain. Tetapi ketika bacaan sampai dengan ayat (60), tahulah kita bahwa pertnyaan ini memang pertanyaan hakiki, karena mereka yang ditanya memberi jawaban sesuai dengan pertanyaan, yaitu “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. Jadi ayat (60) menjadi qarinah (alasan) terhadap apa maksud pertnyaan ayat (59).
Lalu adapun contoh istifham takriri ialah Q.S ad Dhuha: 6-7 sebagai berikut:

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”.
Kita segera paham bahwa pertanyaan Tuhan itu jelas bukan ‘pertanyaan hakiki’, melainkan sebagai ‘penegasan’ (taqriri) bahwa Dia benar-benar telah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu, penegasan ini kita pahami juga dari konteks pernyataan Tuhan pada ayat (7) berikutnya. Oleh karena bersifat penegasan, maka pertanyaan tidak perlu mendapat jawaban. Andaikata dijawabpun secara tersirat oleh Nabi telah diungkapkan atau memang benar begitu adanya.
Selanjutnya ialah mengenai istifham inkarii salah satunya terdapat dalam Q.S al An’aam: 40 sebagai berikut:

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, Apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!”
Memperhatikan konteks dalaali-nya, pertanyaan ini tidak bermakna hakikki ataupun taqriri, melainkan bermakna ‘penolakan’ (inkari). Maksudnya “tidak perlu kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” atau ‘ tidak usah, tidak layak kamu menyeru…..
Itulah beberapa makna istifham dalam al Quran. istifham ini tidaklah digunakan oleh Allah SWT dengan tanpa sebab atau dalam artian tidak berguna, akan tetapi itu semua mengandung hikmah. Salah satunya ialah dipergunakannya uslub tersebut pada bidang pendidikan yang biasa dikenal dengan metode pembelajaran dengan bertanya
Di bawah ini saya akan melampirkan ayat-ayat yang sekiranya dapat menopang konsep metode bertanya dalam pembelajaran berikut implikasinya akan pembelajaran.
A. AL BAQARAH AYAT 215

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya”.
Mengenai sabab nuzul ayat ini, diriwayatkan bahwa Amr’ bin Jamuuh (beliau adalah orang yang kaya dari kalangan sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apa yang harus di infakkan dan kepada siapa menghinfakkannya?, maka turunlah ayat tersebut diatas (asy Sayuti, tt: 30). Sebagai jawaban atas pertanyaannya tersebut. Dijelaskan bahwa yang di infakkan adalah harta, dan semua hal yang berupa materi (al-khairaat). Dan orang yang paling berhak menerima infak adalah :
1. Kedua orang tua, berdasarkan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : ketika menjelaskan tentang orang yang paling berhak mendapatkan infak, beliau bersabda, “Ibumu, bapakmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, setelah itu orang-orang yang lebih dekat (dalam hubungan kekerabatan).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizdi, dan al-Hakim).
2. Para kerabat,
3. Anak-anak yatim,
4. Orang-orang miskin
5. Dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang kehabisan bekal).
Dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir (1999: 124), menurut Muqatil bin Hayyan, ayat ini menerangkan anjuran untuk menafkahkan harta. Menafkahkan harta yang disebutkan dalam ayat ini adalah infak yang bersifat sunnah, bukan wajib. Dijelaskan dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menafkahkan harta dengan cara yang baik, misalnya memberikannya kepada kedua orang tua, sanak kerabat, anak yatim, fakir miskin, dan ibnu sabil. Inilah maksud ayat: “Katakanlah, “Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaklah diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.” Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk memberikan nahkah kepada kedua orang tua, saudara, dan lain sebagainya. Jadi, menafkahkan harta di sini bersifat sedekah, bukan harta yang wajib dikeluarkan seperti zakat.
Sedangkan maksud ayat: “Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” bahwasannya Allah SWT mengetahui apa saja kebaikan yang telah dilakukan manusia. Kelak Allah SWT akan memberikan balasan yang lebih besar dari pada yang disedekahkan.
Menurut Imam At-Tabari (2001: 640- 643) Ayat ini menjelaskan para sahabat Rasulullah SAW yang bertanya kepada beliau tentang harta apa saja yang dapat diinfakkan dan disedekahkan? Jawabannya adalah katakanlah kepada mereka, harta apapun dapat kamu infakkan dan sedekahkan. Berikanlah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim di sekitramu, orang miskin dan ibnu sabil. Sesungguhnya kebaikan yang kamu berikan dan lakukan pada mereka sungguh Allah Maha Mengetahui, Dialah pelindungmu sehingga Dia akan memberimu pahala pada hari kiamat, dan Dia akan memberi kamu pahala atas apa yang kamu berikan kepada mereka, yaitu kebaikanmu menafkahkan harta kepada mereka.
Diriwayatkan dari As-Saddi, ia berkata, “Pada hari diturunkannya ayat ini, syariat zakat belum ada, yang ada hanya infak dan sedekah yang diberikan seseorang kepada keluargannya. Kemudian dihapus oleh syariat zakat.”
Menurut At-Tabari, firman Allah SWT ini dapat dipahami pula sebagai anjuran dari Allah SWT untuk berinfak yang diberikan kepada kedua orang tua, dan kerabatnya, dan orang-orang yang disebutkan pada ayat ini, yang hukumnya tidak wajib.
Dalam rangka mengajarkan manusia, ayat ini memulai pembelajarannya dengan menyampaikan suatu pertanyaan yang pernah disampaikan sekelompok sahabat kepada Nabi Muhammad saw. mengenai apa yang patut mereka nafkahkan. Dia SWT membuka pelajaran dengan ungkapan “Ada orang bertanya kepada engkau tentang sistem pembagian nafkah hartanya”. Maka jawabannya ialah “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat.” Dan dengan ketentuan menurut Allah dan Rasul tersebut, maka hubungan antara sesama mukmin menjadi baik.
Pola pembelajaran seperti ini biasa digunakan guru dalam menyajikan materi pelajaran kepada siswa. Guru menyampaikan pertanyaan-pertanyaan orang yang mungkin saja terjadi di luar kelas, baik pertanyaan itu pernah diajukan kepadanya ataupun orang lain yang mungkin bertanya pernah di dengar oleh guru tersebut. Kemudian guru menyampaikan pertanyaan itu kembali di depan kelas, seperti ada orang bertanya tentang perbedaan haji dan umrah, lalu guru menjawabnya sendiri dengan berkata: “katakanlah bahwa umrah itu gini…..sedangkan haji itu….. atau bisa saja guru menyusun sendiri pertanyaan tidak langsung dirumuskan dari tujuan dan materi pelajaran. Guru bisa memulai pembelajaran dari pertanyaan itu baik dia jelaskan sendiri jawabannya ataupun meminta siswa menjawabnya.
Adapun pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini ialah sebagai berikut:
1. Dianjurkannya bertanya bagi siapa yang tidak tahu, sehingga ia menjadi tahu. Dan ini juga merupakan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu, sehingga para ulama salaf berkata, “Bertanya adalah separoh ilmu”.
2. Seutama-utama infak adalah kepada yang tersebut dalam ayat. Diriwayatkan ketika Maimun bin Mahran membaca ayat ini, maka beliau berkata, “Inilah tempat penyaluran infak. Tidak disebutkan didalam ayat itu, rebana, seruling, patung kayu, dan tirai dinding (barang yang haram dan sia-sia. Pent.)”. Apabila yang berinfak adalah orang yang kaya dan mereka fuqara dan membutuhkan.
3. Anjuran untuk selalu berbuat kebaikan, dan iming-iming pahala yang akan diberikan kepada mereka.
4. Adanya larangan untuk menyalurkan harta kepada hal-hal yang diharamkan dan perbuatan sia-sia.

B. AL MUKMINUUN AYAT 88

“Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”
Ibn Katsier (1999: 603) berkata bahwasannya: “Bangsa Arab dahulu, jika ada orang yang dipertuankan di antara mereka, lalu dia memberikan perlindungan kepada seseorang, maka tidak ada penjagaan di sekitarnya dan orang-orang yang ada di bawahnya tidak boleh melindunginya agar dia tidak mengecilkannya.
Oleh karena itu, Allah Ta’alaa berfirman, “Sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari azab-Nya,” artinya, Dialah Rabb yang Maha Agung, tidak ada satu pun yang lebih agung dari-Nya, penciptaan dan perintah hanya di tangan-Nya serta tidak ada yang dapat menolak hukum-Nya, tidak ada yang dapat melarang dan menentang-Nya. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan pernah terjadi.
Maksud dari pertanyaan dalam ayat ini ialah bahwasannya seorang pendidik harus benar-benar mampu memberikan materi ajar yang paling tepat bagi para peserta didiknya baik itu ditinjau dari segi kognitif, afeksi, dan psikomotorik. Kalau tidak, maka yang akan terjadi ilmu tersebut bukannya akan dapat menopang hidupnya untuk bisa berkarya namun ilmu tersebut tidak akan berguna apa-apa (tidak dapat melindunginya) dalam menghadapi persoalan hidup yang semakin sulit untuk dihadapi oleh peserta didik.
Selain itu juga ayat ini mengisyaratkan agar para pendidik mampu menjadi guru yang kaya, maksudnya ialah guru tersebut selain memberikan ilmunya kepada muridnya, hendaknya dia juga mau untuk mendengarkan keluhan dari para peserta didik akan pembelajaran yang mereka ikuti. Karena biasanya peserta didik itu akan berkonsultasi pada guru yang dianggapnya paling dekat dengannya atau yang sering mengadakan komunikasi dengannya.

C. ASY SYU’ARAA AYAT 72-73

“Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? “atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?”
Zuhaili (1418 H: 165/19) mengungkapkan akan keindahan yang terkandung dalam ayat ini yaitu pada lafaz ينفعونكم او يضرون yaitu berupa thibaq (yaitu suatu gaya keindahan kalam dari segi maknanya). Beliau juga menegaskan bahwasannya ayat kedua ayat ini merupakan inti argumentasi Nabi Ibrahim a.s ketika memperdebatkan berhala-berhala yang biasa kaumnya sembah. Lalu kaumnya tersebut tidak menemukan jawaban yang pasti akan pertanyaan-pertanyaan yang diungkapkan oleh Ibrahim a.s tersebut karena mereka tidak hanyalah berpegang akan tradisi bertaqlid buta pada kakek dan nenek moyang mereka. Selain itu juga mereka tidak mempunyai hujjah yang dapat diterima sebagai pengesahan/ pembenaran praktik peribadahan dan penyucian berhala-berhala mereka. Hal ini juga menandakan akan bukti yang paling kuat yang didasarkan pada buruknya taqlid dalam hal aqidah serta kewajiban untuk bersandar pada pemikiran akal yang suci karena Allah menciptakan akal itu sebagai pengkritik jalannya pengingkaran serta untuk mengingkari tatacara peribadatan (sesembahan) mereka.
Ayat ini juga sebenarnya berkorelasi dengan ayat-ayat yang ada pada surat sebelum dan sesudahnya. Di mana ayat tersebut menunjukkan tahapan berfikir dalam tahap remaja yaitu pada diri Ibrahim a.s.
Berfikir merupakan operasi yang dilakukan oleh akal. Secara etimologi berfikir didefinisikan dengan usaha menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dl ingatan (KBBI: 1073). Dalam bahasa arab bisa juga maknanya dengan definisi dari lafadz tafakkur yang terambil dari fi’il تفكر-يتفكر-تفكرا. Menurut Mukhtar (2008: 1733) mendefinisikan lafadz tersebut dengan makna tadabur (menelaah), I’tibar (mengambil pelajaran), itta’azha (menerima nasehat), serta ta`ammala (menganalisis). Secara istilah ia mendefinisikannya dengan upaya akal untuk mendapatkan jalan keluar (problem solving) serta kesimpulan dari suatu penelitian tersebut. Namun secara ringkas berfikir dapat di definisikan berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep di dalam diri seseorang (Bochenski, dalam Suriasumantri, 1984: 52).
Menurut Dr. Muhammad Az-Za’balawi (2006: 56) ia mengatakan permulaan proses ini terjadi sejak masa balita dan terus mengalami pertumbuhan sampai ia meninggal dunia. Namun menurut Harun Yahya dalam bukunya The Miracle of Al-Quran ia mengatakan bahwasannya manusia berfikir dari sejak ia menjadi janin dalam kandungan sehingga di Barat sering diperdengarkan lagu klasik untuk memacu tingkat berfikir si Janin sedangkan di Timur para orang tua sering memperdengarkan bacaan Al-Quran dari kaset maupun dari kedua orang tuanya sendiri.
Pada masa kanak-kanak, berfikir tidak terfokus pada metode induktif, yaitu pindah dari bagian kecil ke total keseluruhan. Akan tetapi pada masa remaja, ia meneliti fakta-fakta dan menelaah konsep-konsep parsial dari objek, berusaha menyingkap dan mengetahui berbagai hal, secara bertahap dari bagian kecil ke total keseluruhan. Dengan kata lain, perkembangan kognitif pada tahapan ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni: 1) kapasitas menggunakan hipotesis (anggapan dasar); 2) kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak (Syah, 1995: 72).
Dengan kapasitas menggunakan hipotesis, seorang remaja akan mampu berfikir hipotetis, yaitu berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon. Sedangkan dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja tersebut akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu agama, ilmu matematika, dan ilmu-ilmu abstrak lainnya dengan luas dan lebih mendalam.
Ketika ia tidak menemukan jawaban yang memuaskan, bakat berfikir pada fase remaja tidak bosan-bosan untuk menela’ah dan meneliti hingga terungkap ujung berfikir, dengan harapan dapat mencapai esensinya selama hal itu memungkinkan. Dia tidak akan beralih dari tujuannya walaupun penelitian yang harus dilakukan sangat rumit dan jalannya panjang.
Kemajuan dan perkembangan zaman melahirkan tujuan-tujuan baru bagi manusia, yang dituntut oleh kondisi kehidupan di setiap masa dan tempat. Tujuan-tujuan ini boleh jadi jelas atau samar. Dalam kondisi pertama yakni tujuan itu nampak samar maka ia perlu mengambil langkah-langkah serius dalam pemikirannya untuk mendapatkan solusi yang benar, yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum dan prinsip-prinsip lingkungan sosial. Adapun jika dalam keadaan kedua yakni tujuannya jelas kelihatan maka ia mesti memperhatikan jenis rintangan; kadang sebabnya dari individu itu sendiri, tabi’at tujuan, atau lingkungan sosial. Semua itu menuntut remaja untuk memikirkan sarana-sarana alami yang merealisasikan keselarasan antara individu dengan tujuan-tujuannya dan lingkungan sosialnya.
Oleh karena itu penulis akan sedikit menyinggung serta menjelaskan sejauh pemahaman penulis mengenai tahapan berfikir pada seorang remaja yang dikisahkan dalam Al-Quran. Tahapan itu terdiri dari 4 tahapan;

a. Merasa ada masalah
Terdapat beberapa ayat yang menerangkan secara tersirat bahwa tahapan awal berfikir Ibrahim a.s ialah ia merasakan adanya masalah yang terjadi dilingkungannya dengan adanya penyembahan berhala, penganggungan yang sangat tinggi terhadap para raja sehingga titahnya baik benar atau salah harus tetap dipatuhi. Tahapan ini tergambar pada beberapa ayat sebagai berikut;
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ )الأنعام:74)
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Ad-dhahak meriwayatkan dari Ibn Abbas: bahwasannya ayah Ibrahim A.S namanya itu bukan Azaar akan tetapi namanya Taarih (Ibn Katsier, 1999: 288). Dalam riwayat lainnya ditambahkan bahwa nama ibunya adalah Matsaani sedangkan istrinya itu Sarah dan Hajar (Ibn Katsier, 1999: 288). Sedangkan nama Azaar itu menurut Mujahid ialah sebuah nama berhala. Namun ath-Thabari mengomentari mengenai makna Aazar, termasuk nama manusiakah atau merupakah sifat dari berhala, ia menjelaskan bahwa nama Azaar dapat menjadi nama sifat berhala ketika seorang penafsir menjadikan kedudukan lafadz Aazar dengan maushuf (yang disifati) oleh lafadz ashnaam (berhala). Dan ada juga bahwa Azaar itu merupakan sebuah cacian serta celaan bagi orang yang suka mencaci-maki (ath Thabari, 1988: 467).
Sedangkan Hasbi ash-Shidiqie menafsirkan mengenai ayat ini dengan berkata: “ Ingatlah, wahai Rasul, ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, apakah kamu menjadikan patung-patung dan berhala sebagai tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah? sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu yang menyembah berhala dalam kesesatan yang nayata. Lebih-lebih lagi menyembah patung yang dibuat dari batu, kayu, atau logam (Hasbi ash-Shidiqie, 2011: 39).
Hal senada juga diungkapkan oleh ats-Tsa’labi (1418 H: 484) dalam kitab tafsirnya dengan mengutip dari pernyataan ath-Thabari yang berpendapat bahwa Allah memberitahukan kepada Nabi kita, Muhammad saw. suri teladan pada diri Ibrahim a.s pada (cara) perdebatannya dengan kaummnya dimana mereka merupakan para penyembah berhala sebagaimana kaummnya Nabi saw. merupakan penyembah berhala juga.
Pada ayat ini kita bisa berpendapat bahwa sebelum ia bertanya pada kaumnya, penyembah berhala, mengenai sesembahan mereka selain yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Allah SWT, ada gejolak rasa ingin tahu karena terdapatnya masalah atau penyimpangan di sekitar lingkungannya dalam dirinya. Sehingga ia pun mempertanyakan hal itu pada ayah dan kaummnya.
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا(مريم:42)
Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?
Ayat ini memberi suatu pengertian bahwa tanya jawab ini terjadi setelah Ibrahim diangkat sebagai nabi. Ibrahim a.s. tidak mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang yang bodoh. Dia juga tidak mengatakan dirinya berilmu yang cukup, melainkan hanya mengatakan dia telah menerima suatu ilmu yang tidak diberikan kepada ayahnya. Dipergunakan cara itu, karena biasanya tidak ada keberatan satu pun bagi ayah untuk mengikuti anak yang akan menunjukkannya kepada jalan yang lurus (Hasbie ash Shidiqie, 2011: 15).
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (70) الشعراء
Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”
Pertanyaan Nabi Ibrahim a.s yang diabadikan ayat di atas boleh jadi diajukan dalam dua kesempatan yang berbeda, sekali kepada orang tuanya, dan di kali lain kepada kaumnya. Boleh jadi diajukan dalam satu kesempatan, yakni saat orang tuanya dan kaumnya sedang melaksanakan ibadah yang ketika itu dilihat dan diamati oleh Nabi Ibrahim a.s. Penggunaan bentuk mudhari pada kata تعبدون dapat mendukung kemungkinan ini (Quraish Shihab, 2002: 250).
b. Menentukan objek berfikir
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (258)البقرة
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Imam Samarkandi (tt: 171) menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:
Ayat “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah)”, apakah kamu belum dikabarkan kisah orang yang mendebat Ibrahim mengenai Ke-Esaan Tuhan-nya. Yaitu Raja Namrud karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan) dan dia merupakan Raja pertama yang menguasai dunia seluruhnya.
Pada waktu itu mereka (rakyat Namrud) keluar untuk merayakan hari raya mereka. Pada waktu sama Ibrahim as. mengunjungi berhala-berhala mereka kemudian ia menghancurkannya. Maka tatkala mereka kembali. Ia bertanya kepada mereka: “apakah kalian menyembah yang kalian pahat ini?” Lalu mereka balas bertanya: “siapa yang engkau sembah?” dia menjawab: “aku menyembah Tuhan yang menghidupkan dan mematikan. Sedangkan sebagian mereka berkata: waktu itu Namrud lagi menimbun persediaan makannya, lalu ketika mereka membutuhkan makanan tersebut mereka pun membelinya, maka tatkala mereka mengunjunginya dengan serta merta mereka sujud padanya, namun ketika Ibrahim mengunjunginya ia tidak sujud padanya. Lalu Namrud pun bertanya padanya: “mengapa anda tidak sujud? Dia menjawab: “Saya tidak sujud kecuali kepada Allah.” Namrud bertanya kembali: “siapa Tuhanmu? Lalu Ibrahim menjawab: “Tuhanku yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.” lalu Namrud berkata kepadanya: “ Saya juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Kemudian Ibrahim bertanya bagaimana engkau menghidupkan dan mematikan? Lalu dia mendatangkan dua orang, selanjutnya ia membunuh salah satunya dan membebaskan yang satunya lagi. Kemudian ia berkata: sungguh aku telah mematikan salah seorang dari keduanya dan akan menghidupkan yang lainnya. Ibrahim berkata padanya: “anda menghidupkan yang telah hidup dan bukan menghidupkan orang yang telah mati namun Tuhanku menghidupkan yang telah mati.
Untuk membungkam Namrud maka Ibrahim as. mendatangkan argumentasi yang lebih kuat lagi yaitu “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat”. Ibrahim merubah argumentasinya dengan ini karena ia melihat adanya kesalahan pada perdebatannya itu sehingga menunjukkan kelemahan pemahamannya dimana ia mendebat dengan ungkapan yang sama dengan melupakan perbedaan dua kata kerja itu, maka Ibrahim berfikir ulang dan mengemukkan argumentasi lain yang lebih baik untuk membungkam si pendebat itu (raja Namrud). Peristiwa bungkamnya ini diabadikan al-Quran dengan ungkapan “فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ” (al Jauzi, 1422H: 232).
c. Mengumpulkan hipotesis-hipotesis yang relevan
قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (72) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (73) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (74) قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (75) أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ (76) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ (77) الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)الشعراء
Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?” Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).
Ibrahim as. mengemukakan hipotesis-hipotesisnya yaitu sebagai berikut: pertama, berhala itu tidak mendengar dan tidak juga memberi kemanfaatan maupun kemadharatan. kedua, berhala itu tidak melihat mereka. Ketiga, bahwasannya tuhan yang patut disembah ialah Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)ال عمران
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berakal ialah orang yang mampu melakukan pengamatan, penelitian serta pengungkapan hasil pengamatannya serta penelitian atas apa yang ada disekelilingnya baik itu makhluk hidup maupun fenomena-fenomena sosial, ekonomi, politik, maupun kebudayaan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Selain itu juga ini merupakan dorongan bagi orang beriman untuk senantiasa berfikir melalui pengamatan dan penelitian terhadap apa yang ada disekelilinginya dan senantiasa berkarya melalui lisan dan tulisannya.
d. Memilah-milah hipotesis
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (76) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (78) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79) وَحَاجَّهُ قَوْمُهُ قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (81) الأنعام
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: “Apakah kamu hendak membantah tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku.” Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ?” Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?
Islam sangat menganjurkan untuk berfikir logis dan independen sebagai jalan untuk mendapatkan keyakinan tentang pokok-pokok agama, hukum-hukum syari’at, ibadah, serta prinsip-prinsip pendidikan dan akhlak dalam agama. Oleh karena itu, Islam tidak begitu menghargai keimanan tradisional, yang diwarisi turun-temurun dari leluhur atau nenek moyang. Kecuali jika itu menjadi tangga untuk berikutnya, yaitu iman yang dihasilkan oleh dorongan akal dan intuisi sekaligus.
Fase remaja merupakan fase kelahiran kembali pemahaman akal (Az Za’balawi, 2006: 68). Artinya, bahwa pemahaman akal muncul dalam bentuk baru yang tidak dikenal sebelumnya. Hal ini dikuatkan dengan fakta bahwa takliif (pembebanan) dengan hukum-hukum syari’at dan ibadah dalam Islam dimulai sejak seseorang balig begitu tanda-tanda balig muncul, atau bila remaja mencapai usia lima belas tahun.
Pada fase pertumbuhan ini, remaja dapat mandiri dalam berfikir, disamping dia juga dapat mengetahui esensi banyak hal. Kekafiran keluarganya atau kesalahan akidah lingkungan sosialnya tidak menghalanginya untuk berfikir mandiri. Karena jika keyakinan-keyakinan yang batil dan aliran-aliran yang sesat ditimbang dengan akal yang matang pasti akal tersebut akan menolaknya, atau paling tidak meragukan kebenarannya. Dan dengan adanya keraguan itu sendiri seseorang sudah pantas untuk menelaah dan memikirkan kembali secara lebih mendalam. Allah telah menjelaskan didalam Al-Quran semuanya, seperti alam semesta merupakan medan objek untuk di pikirkan, dirinya, harta dan lingkungan sekitar yang selalu berdampingan dengan kita ini tertera dalam Adz-Dzariat ayat 20-22,
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ (20) وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ (21) وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ (22)
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.
Demikianlah kajian mengenai tahapan berfikir pada seorang Ibrahim dimana ia merupakan seorang remaja yang diberi oleh Allah swt kemampuan menerawang secara luas akan keadaan kaumnya sekarang dan masa depan melalui hati dengan merasakan adanya masalah, telinga dan mata melalui pendengaran dan pengamatan, serta akal melalui analisis masalah serta pemecahannya dan dengan lisan melalui kemampuan mengungkapkan hasil yang telah ia lakukan itu sehingga ia mencapai kebenaran yang hakiki.

From → Tafsir Tarbawi

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,637 other followers

%d bloggers like this: